KALENDER HIJRIAH

Siapa Cemerlang Pada Permulaan, Cemerlang Pula Pada Kesudahan (Ibn 'Athaillah, Al-Hikam)

Jumat, 11 Agustus 2017

Ulumul Hadits pertemuan ke-4_Elan Js



Nilai
 
Tanggal Penyerahan Resume : 12 Agustus 2017
Nama                                       : Elan Jaelani Sidiq, S.Pd.I
Utusan                                     : MUI Kec. Tajur Halang
Kelompok                               : 3 (Tiga)
Mata Kuliah                            : Ulumul Hadits pertemuan ke-4
Dosen                                      : KH. Ahmad Sanusi Azhari
Jenis Tugas                              : Resume
Tanggal Materi                        : 05 Agustus 2017

Istilah-Istilah Dalam Hadits
1.      Al-Hadits ialah sesuatu yang disandarkan kepada Nabi Muhammad SAW baik berupa perkataan, perbuatan, pernyataan, taqrir, dan sebagainya.
2.      Atsar ialah sesuatu yang disandarkan kepada para sahabat Nabi Muhammad SAW.
3.      Taqrir ialah keadaan Nabi Muhammad SAW yang mendiamkan, tidak mengadakan sanggahan atau menyetujui apa yang telah dilakukan atau diperkatakan oleh para sahabat di hadapan beliau.
4.      Shahabat ialah orang yang bertemu Rosulullah SAW dengan pertemuan yang wajar sewaktu beliau masih hidup, dalam keadaan islam lagi beriman dan mati dalam keadaan islam.
5.      Tabi’in ialah orang yang menjumpai sahabat, baik perjumpaan itu lama atau sebentar, dan dalam keadaan beriman dan islam, dan mati dalam keadaan islam.
6.      Rawi, yaitu orang yang menyampaikan atau menuliskan hadits dalam suatu kitab apa-apa yang pernah didengar dan diterimanya dari seseorang atau gurunya. Perbuatannya menyampaikan hadits tersebut dinamakan merawi atau meriwayatkan hadits dan orangnya disebut perawi hadits.
7.      Matan Hadits adalah pembicaraan atau materi berita yang berakhir pada sanad yang terakhir. Baik pembicaraan itu sabda Rosulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, sahabat ataupun tabi’in. Baik isi pembicaraan itu tentang perbuatan Nabi, maupun perbuatan sahabat yang tidak disanggah oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam .
8.      Sanad atau Thariq adalah jalan yang dapat menghubungkan matan hadits kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam.
9.      As Sab’ah berarti diriwayatkan oleh tujuh perawi, yaitu : Ahmad, Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Turmudzi, An-Nasa’I, Ibnu Majah
10.  Asy Syaikhon berarti diriwayatkan oleh dua orang perawi yaitu : Bukhari dan Muslim
11.  Hadits Shahih, adalah hadits yang  diriwayatkan oleh rawi yang adil, sempurna ingatan, sanadnya bersambung, tidak ber illat dan tidak janggal. Illat hadits yang dimaksud adalah suatu penyakit yang samar-samar yang dapat menodai keshohihan suatu hadits.
12.  Hadits Maqbul adalah hadits-hadits yang mempunyai sifat-sifat yang dapat diterima sebagai Hujjah. Yang termasuk hadits makbul adalah Hadits Shohih dan Hadits Hasan.
13.  Hadits Marfu’ : Hadits yang diriwayatkan dari nabi saw, oleh seorang rawi kepada seorang rawi hingga sampai pada ulama MUDAWWIN (pencatat hadits), seperti Bukhari, Muslim, Abu Daud dan lain-lain. Disebut marfu’ karena hadits yang riwayatnya diangkat sampai kepada Nabi SAW.
14.  Hadits Maushul adalah hadits yang sanadnya sampai/tersambung kepada Nabi saw, dengan tidak terputus. Sering juga disebut dengan Muttashil.
15.  Hadits Mutawatir: adalah suatu hadits hasil tangkapan dari panca indra, yang diriwayatkan oleh sejumlah besar rawi, yang menurut adat kebiasaan mustahil mereka berkumpul dan bersepakat dusta.
16.  Hadits Ahad: adalah hadits yang tidak memenuhi syarat syarat hadits mutawatir.
17.  Hadits Masyhur: adalah hadits yang diriwayatkan oleh 3 orang rawi atau lebih, serta belum mencapai derajat mutawatir.
18.  Hadits Aziz: adalah hadits yang diriwayatkan oleh 2 orang rawi, walaupun 2 orang rawi tersebut pada satu thabaqah (lapisan) saja, kemudian setelah itu orang-orang meriwayatkannya.
19.  Hadits Gharib: adalah hadits yang dalam sanadnya terdapat seorang yang menyendiri dalam meriwayatkan, dimana saja penyendirian dalam sanad itu terjadi.
20.  Hadits Hasan adalah hadits yang diriwayatkan oleh Rawi yang adil, tapi tidak begitu kuat ingatannya (hafalan), bersambung sanadnya, dan tidak terdapat illat serta kejanggalan pada matannya. Hadits Hasan termasuk hadits yang Makbul, biasanya dibuat hujjah buat sesuatu hal yang tidak terlalu berat atau terlalu penting.
21.  Hadits Dhoif adalah hadits yang kehilangan satu syarat atau lebih dari syarat-syarat hadits shohih atau hadits hasan.
22.  Hadits Maudhu’: adalah hadits yang diciptakan oleh seorang pendusta
23.  Hadits Matruk: adalah hadits yang menyendiri dalam periwayatan, yang diriwayatkan oleh orang yang dituduh dusta dalam perhaditsan.
24.  Hadits Munkar: adalah hadits yang menyendiri dalam periwayatan, yang diriwayatkan oleh orang yang banyak kesalahannya, banyak kelengahannya atau jelas kefasiqkannya yang bukan karena dusta.
25.  Hadits Mu’allal (Ma’lul, Mu’allal): adalah hadits yang tampaknya baik, namun setelah diadakan suatu penelitian dan penyelidikan ternyata ada cacatnya.
26.  Hadits Mudraj (saduran): adalah hadits yang disadur dengan sesuatu yang bukan hadits atas perkiraan bahwa saduran itu termasuk hadits.
27.  Hadits Maqlub: adalah hadits yang terjadi mukhalafah (menyalahi hadits lain), disebabkan mendahului atau mengakhirkan.
28.  Hadits Mudltharrib: adalah hadits yang menyalahi dengan hadits lain terjadi dengan pergantian pada satu segi yang saling dapat bertahan, dengan tidak ada yang dapat ditarjihkan (dikumpulkan).
29.  Hadits Muharraf: adalah hadits yang menyalahi hadits lain terjadi disebabkan karena perubahan Syakal kata, dengan masih tetapnya bentuk tulisannya.
30.  Hadits Mushahhaf: adalah hadits yang mukhalafahnya karena perubahan titik kata, sedang bentuk tulisannya tidak berubah.
31.  Hadits Mubham: adalah hadits yang didalam matan atau sanadnya terdapat seorang rawi yang tidak dijelaskan apakah ia laki-laki atau perempuan.
32.  Hadits Syadz (kejanggalan): adalah hadits yang diriwayatkan oleh seorang yang makbul (tsiqah) menyalahi riwayat yang lebih rajih, lantaran mempunyai kelebihan kedlabithan atau banyaknya sanad atau lain sebagainya, dari segi pentarjihan.
33.  Hadits Mukhtalith: adalah hadits yang rawinya buruk hafalannya, disebabkan sudah lanjut usia, tertimpa bahaya, terbakar atau hilang kitab-kitabnya.
34.  Hadits Mu’allaq: adalah hadits yang gugur (inqitha’) rawinya seorang atau lebih dari awal sanad.
35.  Hadits Mursal: adalah hadits yang gugur dari akhir sanadnya, seseorang setelah tabi’in.
36.  Hadits Mudallas: adalah hadits yang diriwayatkan menurut cara yang diperkirakan, bahwa hadits itu tiada bernoda. Rawi yang berbuat demikian disebut Mudallis.
37.  Hadits Munqathi’: adalah hadits yang gugur rawinya sebelum sahabat, disatu tempat, atau gugur dua orang pada dua tempat dalam keadaan tidak berturut-turut.
38.  Hadits Mu’dlal: adalah hadits yang gugur rawi-rawinya, dua orang atau lebih berturut turut, baik sahabat bersama tabi’in, tabi’in bersama tabi’it tabi’in, maupun dua orang sebelum sahabat dan tabi’in.
39.  Hadits Mauquf: adalah hadits yang hanya disandarkan kepada sahabat saja, baik yang disandarkan itu perkataan atau perbuatan dan baik sanadnya bersambung atau terputus.
40.  Hadits Maqthu’: adalah perkataan atau perbuatan yang berasal dari seorang tabi’in serta di mauqufkan padanya, baik sanadnya bersambung atau tidak.

Refleksi_Elan JS



Nilai
 
Tanggal Penyerahan Resume : 12 Agustus 2017
Nama                                       : Elan Jaelani Sidiq, S.Pd.I
Utusan                                     : MUI Kec. Tajur Halang
Kelompok                               : 3 (Tiga)
Mata Kuliah                            : Refleksi
Dosen                                      : -
Jenis Tugas                              : Refleksi
Tanggal Materi                        : 05 Agustus 2017
 

Refleksi ke-4
Ulama & Kemerdekaan Indonesia

Alhamdulillah, usia kemerdekaan Indonesia sudah menginjak usia ke-72 (17 Agustus 1945 – 17 Agustus 2017). Kemerdekaan ini sudah seharusnya kita syukuri sebab kemerdekaan merupkan bagian dari karunia dari Allah SWT yang sangat besar. Bangsa ini terlepas dari penjajahan dan tindakan yang sewenang-wenang yang dilakukan oleh penjajah, sehingga kita hidup dalam keadaan merdeka dengan penuh ketenangan dan kedamaian.
Hari bersejarah ter-tanggal 17 Agustus 1945 adalah peristiwa dan momentum yang sangat bersejarah dalam kemerdekaan Republik Indonesia pada saat itu Ir. Soekarno dan Muhammad Hatta memproklamirkan bangsa Indonesia menjadi bangsa yang merdeka dan berdaulat. Kemerdekaan bangsa Indonesia diperjuangkan oleh seluruh elemen bangsa termasuk di dalamnya perjuangan para ulama. Bahkan ulama bersama para santri memegang peranan yang sangat penting dan jasa-jasa yang sangat besar dalam kemerdekaan Indonesia, diantaranya:
1.      Sang Proklamator bangsa Ir. Soekarno bersam M. Hatta memproklamirkan kemerdekaan RI 17 Agustus 1945. menyadarkan seluruh rakyat akan ketidakadilan dan kesewenang-wenangan para penjajah melalui berbagai macam mimbar baik di masjid, madrasah, pesantren, organisasi, ataupun tempat-tempat umum lainnya.
2.      Para Ulama bersatu dan mengeluarkan fatwa wajibnya jihad melawan penjajah. Perang melawan penjajah dianggap jihad fi sabilillah, yakni perang suci atau perang sabil demi agama. Para Ulama juga berperan aktif dalam memobilisasi dan memimpin santri bersama rakyat dalam perjuangan melawan penjajah. Diantara para ulama yang memimpin pergerakan tersebut yaitu: Imam Bonjol, KH Hasyim Asy’ari, KH. Ahmad Dahlan, KH Zaenal Mustofa, Pangeran Dipenogoro, Tuanku Imam Bonjol dan para ulama yang lainnya diberbagai wilayah seluruh Indonesia. Para ulama bersama santri dan rakyat berperan aktif dalam mengisi awal kemerdekaan. termasuk di BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-Usaha Kemerdekaan Indonesia). Di awal-awal kemerdekaan, para ulama aktif di pemerintahan ataupun di parlemen. para ulama yang berjuang melalui organisasi dan pendidikan, masih banyak lagi perjuangan dan jasa-jasa para ulama.
Pada saat ini kita sebagai generasi penerus mari kita lanjutkan perjuangan para ulama dan mengisinya dengan hal-hal yang terbaik menuju bangsa yang penuh keberkahan, damai, adil, makmur, dan sentosa. Sehingga menjadi bangsa Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur. Aamiin. Wallahu ‘Alam bi Shawab.